Syaharuddin Alrif dan Gagasan “Kota Sehat” sebagai Infrastruktur Ekonomi

katasulsel@gmail.com
16 Apr 2026 01:32
Headline News 0 12
3 menit membaca

Sidrap, katabarru — Di tengah arus kompetisi antar daerah yang kian ketat dalam menarik investasi, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mencoba menggeser cara pandang lama: bahwa pembangunan tidak semata soal beton, jalan, atau gedung megah, tetapi juga tentang kesehatan sebagai fondasi yang tak terlihat namun menentukan arah pertumbuhan.

Momentum itu mengemuka dalam Seminar Kesehatan bertema “Kabupaten/Kota Sehat: Kawasan Bersih, Investasi Aman” yang digelar di Auditorium ITKES Muhammadiyah Sidrap, Jumat (17/4/2026). Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, S.IP., M.M., Ph.D (Hon), dijadwalkan menjadi keynote speaker, menandai posisi strategis pemerintah daerah dalam membaca ulang hubungan antara kesehatan publik dan ekonomi daerah.

Forum ini tidak berdiri sebagai acara seremonial biasa. Ia hadir sebagai ruang temu antara logika akademik, kebijakan publik, dan realitas lapangan. Di satu sisi ada pemerintah daerah, di sisi lain akademisi dan praktisi kesehatan yang selama ini menjadi penopang data dan analisis kebijakan.

Nama-nama seperti Prof. Sukri Palutturi, Dr. Wahiduddin, hingga Dr. Ishak Kenre mempertegas bahwa diskursus yang dibangun bukan sekadar normatif, melainkan berbasis ilmu kesehatan masyarakat yang sudah lama menempatkan lingkungan sebagai determinan utama kualitas hidup.

Dalam perspektif yang lebih luas, konsep “kabupaten/kota sehat” kini telah bergeser dari sekadar label administratif menjadi indikator kredibilitas daerah. Daerah yang mampu menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan stunting, dan membangun sistem sanitasi yang baik, perlahan dipersepsikan sebagai wilayah yang lebih aman bagi investasi.

Di titik inilah narasi “Kawasan Bersih, Investasi Aman” menjadi menarik. Ia sederhana dalam bahasa, tetapi kompleks dalam makna. Ada relasi langsung yang coba dibangun antara perilaku hidup bersih masyarakat dengan stabilitas ekonomi daerah. Dalam bahasa yang lebih populer di akar rumput: daerah yang bersih bukan hanya enak dipandang, tetapi juga dipercaya untuk ditanami modal.

Bupati Sidrap dalam konteks ini tidak hanya tampil sebagai kepala daerah secara administratif, tetapi juga sebagai figur politik pembangunan yang membawa pesan strategis: bahwa investasi tidak tumbuh di ruang yang sakit, kumuh, dan tidak tertata.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan akademik yang mulai menguat bahwa kesehatan adalah invisible infrastructure—infrastruktur tak kasat mata yang justru menentukan daya saing jangka panjang suatu wilayah. Jalan bisa dibangun dalam hitungan tahun, tetapi kepercayaan investor dan kualitas kesehatan masyarakat membutuhkan ekosistem yang konsisten.

Jika dilihat lebih jauh, seminar ini memperlihatkan tiga lapisan penting dalam perubahan paradigma pembangunan daerah.

Pertama, kesehatan mulai diposisikan sebagai bahasa ekonomi. Angka stunting, kualitas sanitasi, hingga perilaku hidup bersih tidak lagi hanya menjadi laporan teknis, tetapi bahan pertimbangan investasi.

Kedua, kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan mutlak. Kehadiran institusi pendidikan seperti ITKES Muhammadiyah Sidrap menunjukkan bahwa produksi pengetahuan kesehatan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan akademisi.

Ketiga, menguatnya dimensi politik kesehatan. Ketika kepala daerah hadir sebagai keynote speaker, maka kesehatan tidak lagi berada di pinggiran kebijakan, melainkan masuk ke pusat arah pembangunan.

Namun, tantangan yang mengiringi gagasan besar ini tetap tidak ringan. Banyak daerah yang berhasil membuat forum dan deklarasi, tetapi gagal dalam implementasi di lapangan. Di sinilah publik akan menilai, apakah seminar ini hanya menjadi ruang wacana, atau benar-benar melahirkan kebijakan yang turun ke tingkat desa, puskesmas, hingga perilaku masyarakat sehari-hari.

Sidrap, melalui forum ini, tampaknya sedang mencoba mengirim sinyal bahwa arah pembangunan ke depan tidak bisa lagi berjalan parsial. Infrastruktur, kesehatan, dan investasi harus dibaca sebagai satu kesatuan ekosistem.

Dan pada akhirnya, pertanyaan penting yang tersisa bukan lagi sekadar apa yang dibahas di ruang seminar, tetapi sejauh mana gagasan itu mampu berubah menjadi kebijakan yang hidup di tengah masyarakat—yang membuat Sidrap bukan hanya sehat di atas kertas, tetapi juga kuat dalam kenyataan. (*)

katabarru.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x