Sidrap Perketat Skrining TB Lewat CKG, Kadis Kesehatan: Jangan Ada Gejala yang Terlewat di 14 Puskesmas

Redaksi
25 Mei 2026 06:18
News 0 36
3 menit membaca

Sidrap, katabarru.com — Ruang kerja Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap, Senin, 25 Mei 2026 pagi itu, menjadi titik konsolidasi arah kebijakan layanan kesehatan primer. Dr. Ishak Kenre memimpin langsung Dialog Kinerja Bidang bersama jajaran kepala bidang, kasubag, penanggung jawab program, hingga perwakilan puskesmas.

Di meja yang sama, dibahas lima isu besar kesehatan daerah: Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), stunting, Tuberkulosis (TB), dan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Namun dalam diskusi yang berlangsung lebih teknis dari biasanya, fokus utama justru mengarah pada integrasi layanan skrining penyakit menular dalam layanan dasar.

Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditegaskan bukan sekadar layanan pemeriksaan umum. Ishak menyebut program ini sebagai titik masuk strategis untuk menemukan penyakit sejak fase awal, sebelum pasien masuk pada kondisi klinis yang lebih berat.

“CKG itu harus jadi pintu deteksi, bukan sekadar layanan formalitas,” ujarnya.

Dalam penekanan yang paling kuat, ia meminta seluruh 14 puskesmas di Sidrap memperketat skrining Tuberkulosis (TB) di setiap layanan CKG. Menurutnya, pendekatan pasif tidak lagi cukup untuk menghadapi penyakit yang memiliki karakter penularan cepat di masyarakat.

Petugas kesehatan diminta melakukan skrining gejala secara aktif melalui anamnesis terstruktur. Gejala yang menjadi perhatian meliputi batuk lebih dari dua minggu, demam yang tidak kunjung reda, keringat malam, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Jika ditemukan indikasi suspek, pasien harus segera diarahkan ke pemeriksaan lanjutan seperti tes dahak (sputum) dan rontgen dada.

Dalam penjelasannya, Ishak mengingatkan kembali karakter epidemiologis TB sebagai penyakit yang kerap tidak terdeteksi pada fase awal. Satu kasus yang terlewat, menurutnya, dapat membuka risiko penularan ke banyak orang dalam waktu relatif singkat.

“Kalau satu kasus terlewat, dampaknya bisa panjang ke keluarga dan lingkungan. Itu yang kita cegah,” katanya.

Selain penguatan skrining, ia juga menyoroti disiplin layanan di tingkat puskesmas. Mulai dari kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), kebersihan ruang layanan, hingga evaluasi capaian program yang tidak boleh berhenti di laporan administratif semata.

Menurutnya, layanan kesehatan primer hanya akan efektif jika seluruh elemen bekerja dalam sistem yang konsisten, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Dalam forum tersebut, Ishak juga kembali menyinggung target besar eliminasi TB tahun 2030. Ia menilai target tersebut hanya realistis jika deteksi dini diperkuat sejak level paling awal pelayanan kesehatan, terutama melalui program CKG yang menjangkau masyarakat luas.

Di akhir pertemuan, arah kebijakan itu semakin jelas: CKG harus menjadi titik temu semua skrining, bukan program yang berdiri sendiri.

Dengan pendekatan itu, Dinas Kesehatan Sidrap mencoba menggeser cara kerja layanan primer—dari sekadar pelayanan administratif menjadi sistem deteksi dini yang lebih agresif, terukur, dan menyentuh langsung risiko kesehatan masyarakat di lapangan.(*)

katabarru.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x