Menyikapi Perbedaan Idul Fitri dengan Bijak: Perspektif UNMUH-Barru

Redaksi
23 Mar 2026 05:50
Headline News 0 141
2 menit membaca

Universitas Muhammadiyah Barru menyampaikan pandangan edukatif dan reflektif atas dinamika yang terjadi di tengah masyarakat terkait pelaksanaan Salat Idul Fitri oleh sebagian umat Islam yang memiliki perbedaan dalam penentuan awal Syawal.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan keilmuan, Universitas Muhammadiyah Barru memandang bahwa perbedaan dalam metode penentuan Idul Fitri—baik melalui hisab maupun rukyat—merupakan bagian dari kekayaan intelektual dalam tradisi Islam yang telah berlangsung sejak lama. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi sumber konflik, melainkan ruang untuk saling memahami dan menghormati.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan tentang hakikat umat ini sebagai satu kesatuan:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu (ummatan wāḥidah), dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(QS. Al-Mu’minun: 52)

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam praktik ijtihadiyah, umat Islam tetap berada dalam satu ikatan keimanan yang tidak boleh terpecah oleh perbedaan tersebut.

Universitas Muhammadiyah Barru menekankan bahwa penting bagi masyarakat untuk mengedepankan sikap dewasa dalam beragama, dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, saling menghargai, serta menjaga keharmonisan sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, kebebasan menjalankan ibadah merupakan hak fundamental yang dilindungi dan harus dijaga bersama.

Rektor Universitas Muhammadiyah Barru dalam pernyataannya turut menyampaikan sikap institusi terhadap dinamika yang terjadi. Ia menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga kondusivitas dan melindungi hak beribadah masyarakat.

“Kami berharap kepada Pemerintah Kabupaten Barru untuk dapat menjadi pengayom bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang organisasi keagamaan. Perbedaan dalam penentuan hari raya adalah bagian dari khazanah keilmuan Islam yang tidak seharusnya menjadi alasan terjadinya pembatasan dalam beribadah. Negara, melalui pemerintah daerah, memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadahnya dengan aman dan tenang.”

Lebih lanjut, Universitas Muhammadiyah Barru mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran berharga tentang pentingnya literasi keagamaan yang moderat dan inklusif. Dengan pemahaman yang baik, perbedaan tidak akan melahirkan perpecahan, melainkan memperkaya cara pandang dalam beragama.

Dengan semangat ummatan wāḥidah, Universitas Muhammadiyah Barru berharap masyarakat dapat terus menjaga persatuan, memperkuat nilai kebersamaan, serta menjadikan perbedaan sebagai rahmat dalam kehidupan umat Islam.

katabarru.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x